Oleh : Afsari Mutiara Maulida Putri
Tanggal Upload : 31 Desember 2016
Usia Si Kecil : 5 Tahun
Hewan, Tumbuhan dan Bumi adalah Sahabat Affan
Tipe Kecerdasan:
Kecerdasan naturalis merupakan kecerdasan dalam berpikir dan belajar yang berkaitan dengan pemahaman terhadap lingkungan sekitar kita seperti tanaman, binatang atau benda mati seperti air, batuan atau gejala alam seperti hujan atau panas, atau tentang ruang angkasa.

“ Kasih makan ikannya Bunda.. “

“ Affan mau water.. air.. air.. siram pohon..”

“ Ini sampah, buang ..tempat sampah..”

    Affan senang memperhatikan alam sekitarnya. Ia sangat antusias saat melihat hewan seperti burung, kucing, anjing, semut, atau hewan lainnya. Seringkali ia menanyakan kegiatan apa yang dilakukan hewan-hewan tersebut dan apa makanannya. Affan juga senang memperhatikan tumbuh-tumbuhan seperti bunga, pohon, dedaunan, atau gambar jamur pada buku-bukunya. Begitupun dengan cuaca seperti hujan, panas, mendung, petir, dan gejala alam lainnya.

   Seringkali Affan menendang batu atau meminta kami membuang ranting yang berada di tengah jalan. Saat melihat sampah berserakan, ia suka berkomentar “ Bunda, Ayah, itu sampah banyak, kotor”. Kami pun menjelaskan bahwa kebiasaan membuang sampah di sembarang tempat adalah salah dan dapat mencemari alam. Terkadang bila kami berjalan-jalan dan mencium bau asap kendaraan bermotor yang pekat, Affan langsung menutup hidung sembari berkata, “Emm.. Bau Bunda, Ayah, asap..”. Rasanya, ia sudah semakin peduli terhadap berbagai hal yang terjadi pada lingkungan sekitar.

     Banyak cara untuk meningkatkan kepedulian anak terhadap bumi dan alam. Tentunya kita sebagai orang tua berharap agar anak-anak kita memiliki kecerdasan naturalis yang baik. Mencintai alam dan makhluk hidup di dalamnya merupakan cara agar bumi kita tetap lestari. Bagaimana caranya?

Berikut ini beberapa kegiatan yang dapat meningkatkan kecerdasan naturalis anak :

1. Mengenalkan bumi beserta isinya seperti hewan, tumbuhan, gunung, serta berbagai gejala alam melalui perbincangan sehari-hari. Hal ini dapat dilakukan dimana saja kapan saja saat kita bersama anak. Misalnya saat kita berjalan-jalan, menonton televisi bersama, membaca buku, ataupun bercerita. Jelaskan pula berbagai cara untuk memelihara bumi dan menyayangi makhluk hidup.

2. Mengajak anak berinteraksi langsung dan menunjukkan cara mencintai alam. Misalnya dengan mengajak anak ke taman kota, berjalan-jalan di sekitar lingkungan rumah, atau berlibur ke berbagai tempat wisata alam. Melalui kegiatan ini, anak dapat melihat dan berinteraksi langsung dengan hewan dan tumbuhan. Anak juga dapat merasakan langsung berbagai fenomena alam seperti tiupan angin, tetesan hujan, udara panas di siang hari , dan fenomena alam lainnya.

3. Memberi contoh nyata dalam upaya mencintai lingkungan, seperti menyiram tanaman, membuang sampah pada tempat sampah, menyayangi hewan, dan sesama makhluk hidup lainnya. Ketika membuang sampah misalnya, orang tua sebaiknya mengucapkan secara lantang bahwa sampah harus dibuang ke tempat sampah. Atau singkirkan batu yang ada di tengah jalan karena dapat menghalangi atau mencelakai orang lain.

4. Ajaklah anak untuk ikut serta dalam upaya memelihara lingkungan. Biarkan anak bereksplorasi dengan alam sekitar asalkan masih dalam pengawasan orang tua. Lakukan kegiatan baik bersama-sama, misalkan saat memberi makan hewan, membuang sampah, menanam tumbuhan, dan berbagai kegiatan lainnya.

“Bunda, Affan mau buang sampah.” Ia katakan sembari membawa botol susu Chil-Go yang sudah habis. Affan menuju tempat sampah lalu membuang botol itu ke tempat sampah.

“Waah, pinter anak Ayah Bunda.” seru kami ketika itu.

“Liat Ayaaah.. Liat Bundaa.. sampaah.. sampaah..” sembari menunjuk sampah botol plastik bekas minuman yang tepat berada di dekat tempat sampah itu. Letaknya di samping bawah. Sepertinya orang yang hendak membuangnya gagal melemparkan sampah itu tepat ke dalam tempat sampah. Namun, ia membiarkannya begitu saja.

Segera saat itu juga Affan hendak meraih sampah botol plastik itu. Sebenarnya ada keraguan dalam hati saya saat itu. Saya khawatir kuman menempel pada tangan mungilnya. Sepertinya sampah itu sudah berada aga lama di atas tanah. Hampir saja saya mengambil alih untuk membuang sampah itu. Segera saya ingat bahwa ini adalah kesempatan emas baginya untuk belajar. Jangan sampai terbuang begitu saja. Akhirnya kami biarkan ia memungut dan membuang sampah itu pada tempatnya. Bangga dan terharu rasanya saat itu. Setelah itu kami pun mengajak Affan mencuci tangan.

       Hal tersebut menjadi pengalaman bagi kami bahwa dalam mengembangkan kecerdasan naturalis, terkadang orang tua merasa ragu saat mempercayakan anak untuk berinteraksi dengan alam. Terutama apabila anak masih dalam usia balita. Untuk itu, kita sebagai orang tua sebaiknya tidak membatasi keingintahuan serta melarang aktivitas eksplorai anak asalkan masih dalam pengawasan. Tentunya orang tua harus tetap memperhatikan kebersihan dan keselamatan anak. Misalnya mengawasi anak saat berlarian dan bermain di pantai atau membiasakan mencuci tangan dengan sabun setelah beraktivitas di luar. Kegiatan eksplorasi juga akan terasa sangat menyenangkan saat dilakukan bersama-sama.

Bagikan ide kreatif mu ke teman-teman untuk memperbesar peluang Ayah atau Bunda terpilih menjadi pemenang.
Total Views :